Kau Mengalihkan Duniaku
Zafira Tari Lathifa
Perputaran kincir angin, komedi putar, ombak air, kora-kora, dan beberapa permainan yang lain tak membuat kepalaku pusing ataupun nyeri. Suara bising motor yang tengah beratraksi pun tak membuatku penat. Aura dingin dari rumah hantu yang begitu mencekam tak terlalu membuat bulu kudukku berdiri tegang. Semua terasa hangat, menyenangkan, dan damai.
Putra. Dia bernama Putra. Baru kali pertama kami bertemu. Dan kami, kami seperti dua sahabat yang sudah lama tak bersua dan malam ini di pertemukan. Akrab. Antara aku dan Putra terkesan begitu akrab. Walau rasa canggung masih kerap menghampiri, tetapi kami dapat membawa diri dengan baik.
***
“Putra,”
“Lia,”
Perkenalan singkat yang membawa kesan tersendiri dalam diriku malam itu. “Kamu kenapa, Li, senyam-senyum sendiri? Seperti orang gila saja kamu!” Tanya Fero, kakakku. Aku hanya nyengir kuda dan berlalu begitu saja. Putra benar-benar telah membuatku gila. Putra telah mengalihkan duniaku.
Kebaikannya yang begitu sangat. Perhatiannya, tutur katanya, desah suaranya, juga renyah tawanya masih terekam jelas di benakku. Walau rupa tak setampan Yusuf. Bahagia, tetap itu yang aku rasakan.
Kini tak lagi aku menilai seorang dari rupanya saja. Rupa bukanlah segalanya, yang penting hati. Rupa dapat lapuk di makan usia. Rupa tak selamanya bercahaya. Ada kalanya ia menua dan akhirnya tua. Tetapi hati, hati memang dapat berubah juga, tetapi jika hati di jaga dengan benar, ia akan tetap terselamatkan dari hasutan setan yang terkutuk. Tuhan lebih menghargai hati ketimbang rupa.
***
“Kamu mau pilih yang mana?” tanyanya ketika aku dan Putra berada di depan penjual pakaian. “Ah, nggak. Nggak usah,” jawabku malu-malu. “Beneran?” tanyanya meyakinkan.
Aku mengangguk pasti walau sebenarnya ragu.
“Pilih cepet aja kalau nggak mau baju!” pintannya. Demi menghargai kebaikan Putra, aku pun memilih-milih cepet-cepet cantik di hadapan kami. Aku memang penggemar cepet. Dan, oh… bando itu lucu sekali. Ungu, warnanya seperti warna kesukaanku. Aduh, aku begitu ingin memilikinya. Inginku dalam hati.
“Gimana, ada yang suka?” tanyanya.
Aku menggeleng lemas. Sebenarnya ada yang aku suka, tetapi aku malu jika harus memintanya. Putra sudah begitu banyak memberiku malam ini, padahal kami baru saja mengenal. Ingin aku bayar sendiri dengan uangku, tetapi aku tetap sungkan dengan dia.
***
Oh, Putra… kau begitu mengalihkan duniaku. Kau buatku seakan lupa dengan cerita cintaku yang lalu, yang begitu menyakitkanku. Kau membuatku kembali ceria. Kau buatku kembali tersenyum girang.
Oh, mungkinkah aku telah jatuh hati kepadamu? Mungkinkah dewa amor telah menancapkan busurnya di hatiku? Aku tak tahu!
o0o