Minggu, 14 Oktober 2012

Xīnyuàn


Xīnyuàn
Oleh : Zafira Tari Lathifa

“Peringkat pertama dengan total nilai 39,6 diperoleh oleh…”            Jantungku berdebar dengan kencangnya. Semakin detik kecepatannya semakin kencang. Menunggu pengumuman hasil nilai kelulusan begitu mendebarkan setelah pengumuman kelulusan itu sendiri.            “Maharani Kumalasari dari kelas dua belas pemasaran dua. Beri tepuk tangan!”            Aku tak percaya dengan apa yang Pak Ridwan, kepala sekolahku, serukan. Beliau menyerukan namaku. Yah, Maharani Kumalasari adalah namaku. Tak ada seorang pun di sekolah ini yang bernama demikian selain aku. “Silakan Maharani Kumalasari untuk maju kedepan,” lanjut beliau.            Aku masih saja terdiam ditempat dudukku sekarang. Aku benar-benar masik shock dengan apa yang aku dengar barusan. Aku tak percaya bila namakulah yang Pak Ridwan serukan. Aku hanya seorang siswi jurusan pemasaran yang sering diremehkan oleh anak-anak jurusan lain. Bahkan, banyak juga guru-guru yang meremehkan jurusan pemasaran tempatku berada. Dan akhirnya aku berhasil menduduki peringkat pertama pada kelulusan tahun ini. Dan yang lebih mengejutkan lagi, total nilaiku hampir mendekati sempurna. Aku benar-benar tak percaya.            “Hai Mal, congratulation ya, aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu yang menduduki peringkat pertama pada kelulusan tahun ini. Kamu benar-benar hebat,Mal!”            “Wah, Mal, hebat kamu!”            “Cepetan maju, Mal!”            Berbagai tanggapan positiv dari teman-temanku semakin membuatku tak percaya dengan apa yang aku dapatkan saat ini. Semua ini seakan mimpi. Au! Ternyata aku tidak sedang bermimpi saat iseng aku cubit lenganku.            Dengan perasaa tak karuan, kulangkahkan kaki menuju panggung seperti yang Pak Ridwan pinta.            “Hah, dia yang peringkat pertama? TIDAK MUNGKIN!”            “Seorang pemasaran bisa kalahin kita-kita anak akuntansi? Pasti dia CURANG!”            “Iya, pasti dia CURANG!”            Berbagai tanggapan negativ yang di lontarkan anak-anak jurusan lain berhasil menciutkan nyaliku untuk terus melangkahkan kaki. “Ayo Mal, cepat naik!” seru Lika teman sekelasku dari tempatnya ia duduk, di bangku paling belakang. Aku pun kembali melangkahkan kakiku dengan yakin.            “Selamat, Mala kamu berhasil,” ucap Pak Ridwan padaku dengan menyodorkan sebuah piala kepadaku. “Terima kasih Pak,” jawabku dengan menyunggingkan senyum antara bahagia dan tidak percaya. Sebuah piala ada di tanganku.            “Benar kan apa kata bapak? Kamu BISA!” seru Pak Tri guru produktifku yang tempo lalu pernah menyemangatiku bila aku pasti BISA.            “Piala ini aku persembahkan untuk kalian teman-teman!” seruku di atas panggung pada teman-temanku yang berada di bagian paling akhir. Pemasaran di tempatkan di bagian belakang. “PEMASARAAAANNN…” lanjutku dengan sedikit meninggikan piala di tanganku, “BISA!” seru teman-temanku serempak yang tanpa kusadari butiran bening menetes di pipiku. Tetapi tetap, senyum bahagia tetap ada di tempatnya.***            Sang rembulan telah menampakan dirinya. Sang bintang pun tak mau kalah. Kegelapan malam semakin membuat mereka bercahaya terang. Hawa dingin yang di timbulkan dari tarian dedauan akibat angin yang bertiup semakin memberikan suasan tersendiri.            Cuaca memang cerah, tetapi hawa dingin pun tak mau kalah. Kudekatkan dada dengan kedua kakiku yang aku lipat. Kedua tanganku mendekapnya. Aku teringat saat yang lalu, saat di mana aku harus berjuang demi membahagikan kedua orang tuaku untuk diterima di SMK Negeri 1 Purwodadi yang merupakan SMK terbaik di daerah ini. Setelah di terima pun aku harus tetap bergulat dengan mental yang seakan-akan ingin lenyap dari tempat tinggal yang semestinya.            “Mala, kamu nggak usah sekolah di sana! MAHAL!”            ‘Tapi, bu, Mala ingin sekolah di sana,”            “Jangan membantah, Mala!”            “Tapi, bu…”            “Ah, sudah! Tidak ada tapi-tapian lagi!”            “Bu…”            “SUDAH!”            “Mala janji, bu, Mala akan rajin belajar. Mala akan banggain ibu dengan prestasi. Mala janji, bu, Mala akan giat belajar supaya Mala bisa dapat beasiswa,” aku terus saja merajuk agar ibuku mau me-ridhoi  keinginanku. “Oh, Mala juga akan cari pekerjaan bu buat tutupin kekurangan biaya sekolah Mala nantinya. Mala janji, bu…” lanjutku. “Tapi tolong, ibu ridhoi  keinginan Mala ya untuk sekolah di SMK 1?”            Tanpa kusadari, butiran bening membasahi pipiku. Terbentuklah anak sunga di sana. Dekapan hangat yang tiba-tiba aku dapatkan semakin membuatku terisak. Ibu mendekapku. “Mala mohon, bu, Mala…” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, ibuku sudah memotongnya. Aku semakin terisak ketika mendengar tuturan beliau. “Sudah Mala, sudah! Ibu me-ridhoi  kamu bersekolah di sana. Kamu nggak usah repot-repot cari kerja, biar ibu saja yang bekerja. Kamu belajar saja yang rajin biar nanti jadi orang.”            Kuciumi tangan beliau. Pipi beliau. Sebagai tanda terima kasih. Aku kembali mendekapnya. Tangisku kembali semakin menjadi. Di belainya rambutku dengan penuh kasih sayang. Kupererat dekapanku. Kurasakan kehangatan luar biasa di sana.            Dengan niat sekaligus kenekatan aku pun mendaftarkan diri di sana, di SMK Negeri 1 Purwodadi pada gelombang pertama yang membuka peluang untuk mendapatkan beasiswa atau paling tidak keringanan biaya. Dari lebih dari dua ratus peserta yang mendaftar dan mengikuti setiap tes yang berikan pihak sekolah, aku berhasil menduduki peringkat ketiga dari dua belas peserta yang diterima.  Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang aku peroleh.            Pemasaran jurusan yang aku ambil dari enam jurusan yang tersedia. Pemasaran, Akuntansi, Administrasi Perkantoran, Busana Butik, Tehnik Komunikasi dan Jaringan, juga Multimedia. Mengapa aku ambil jurusan pemasaran dan bukan jurusan yang –kata orang- lebih baik? Jawabannya, karena aku memang menggemari dunia bisnis yang khususnya di bidang Marketing.            Hari-hariku di sekolah kujalani dengan gembira walau terkadang terdapat luka. Aku memiliki banyak teman yang mau menerimaku apa adanya, BUKAN ada apanya. Mereka merasakan hal yang sama seperti apa yang aku rasakan. Tak ada diskriminasi kelompok di sana. Kami merasa senasib-sepenanggungan.            Ketika banyak mulut-mulut yang menghina jurusan kami, kami bertekat untuk menjadi seorang yang lebih baik lagi dari yang sebelumnya. Memang, hinaan mereka membuat nyali kami ciut, tetapi di balik itu, semangat kami kian berkobar. Kami yakin bahwa suatu saat nanti kami mampu menunjukkan gaung kami sebagai siswi lulusan pemasaran yang berprestasi. Kami yakin, barang satu dari kami akan mampu bergaung. Memang, sebagian besar dari kami merupakan siswi-siswi tolakan dari jurusan awal yang kami ambil seperti akuntansi, administrasi perkantoran atau jurusan yang lain. Tetapi dengan begitu kami sadar, kesuksesan kami tidak di semua jurusan itu, melainkan di sini, di pemasaran.            Ketika banyak yang mengatakan bila jurusan pemasaran tidak akan pernah berhasil. Ketika banyak yang mengatakan bila jurusan pemasaran hanyalah jurusan sampah yang seharusnya di musnahkan. Ketika banyak yang mengatakan bila jurusan pemasaran akan banyak yang tidak lulus. Dan ketika banyak yang mengatakan bila jurusan pemasaran tidak akan ada yang mampu bekerja di ruangan ber-AC dan mengahadapi komputer setiap harinya ... ketika itu pula mereka terbelalak, tercengang tak percaya bila ada seorang anak pemasaran yang berhasil menduduki singgasana tertinggi ketika kelulusan dengan nilai yang hampir sempurna. Dan yang paling membuat mereka tercengang tak percaya, tawaran pekerjaan dari perusahaan seorang China berhasil digenggamnya. Sebagai seorang marketing.            “Mala, cepat masuk! Sudah larut,” suara ibuku dari dalam rumah membuatku kembali ke duania nyataku. Lamunanku terhenti. Aku pun menuruti permintaan beliau untuk segera masuk ke dalam rumah yang ketika aku melihat jam sudah menunjukkan jam Sembilan  malam.***            “Gèng hǎo, wǒmen cái gānggāng kāishǐ, jīntiān shàngwǔ de huìyì...( Lebih baik langsung saja kita mulai rapat pada pagi ini...)” ucapku membuka rapat pada pagi yang dingin ini di salah satu perusahaan terkemuka di Beijing, China.            Sebagai seorang marketing, aku harus mampu berbahasa asing. Terutama bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin karena banyak rekan bisnisku yang dari China. Bukan hanya itu, aku juga bekerja di bawah naungan orang China yang mau tak mau aku harus mampu berbahasa Mandarin. Untunglah, sewaktu sekolah di SMK dulu ada pelajaran Bahasa Mandarin. Jadi, barang sedikit aku mengerti Bahasa Mandarin. Yah, tentu saja aku masih terus belajar guna mendukung pekerjaanku saat ini.            “Xièxiè, (Terima kasih)” akhirnya rapat yang berlangsung kurang lebih selama dua jam ini akhirnya selesai juga.            “Bu Maharani Kumalasari, bagaimana rapatnya hari ini? Diànliú? (Lancar?)” seorang pria yang sebelumnya duduk di ruang tunggu menghampiriku.            “Oh, Pak Ivan Mahardika. Alhamdulillah,  Pínghuá. (Lancar)” jawabku dengan menyunggingkan sebuah senyuman.            “Zuìhòu yěxīn yào zuò dào zhè yīdiǎn, (Akhirnya cita-citamu selama ini terwujud), aku turut berbahagia atas  keberhasilanmu. Ibu kamu di tanah air pasti bahagia melihat anaknya sukses di negeri orang,”            Aku hanya tersenyum senang mendengar pujiannya.            “Wǒ ài nǐ (Aku cinta kamu)” ucapnya lembut yang membuatku terkejut mendengarnya.            “Wǒ ài nǐ, too…” balasku dengan senyum geli. Kulihat perubahan rona mukanya yang terlihat sangat lucu. Dikerutkannya dahinya. Aku cekikikan geli melihatnya. “Wǒ yě ài nǐ (Aku juga mencintaimu),” ucapku lembut saat melangkah melewatinya. Tepat di telinganya aku berucap. Ah, sayang, aku tak tahu bagaimana ekspresinya. Pasti sangat lucu.            Ivan tiba-tiba sudah ada di sampingku. Berjalan mengiringiku. Dengan langkah tegap menunjukan kewibawaannya. Dia melirikku dengan senyum tipis di bibirnya yang seakan-akan ingin tertawa tetapi di tahannya. Ivan adalah seorang Indonesia yang juga bekerja di perusahaan yang sama denganku di Beijing, China ini.o0o

Selasa, 17 Juli 2012

FF - Kau Mengalihkan Duniaku


Kau Mengalihkan Duniaku
Zafira Tari Lathifa



Langit begitu gelap, malam seakan tak bercahaya. Bulan terlihat murung, bintang-bintang seakan menghilang. Semua lenyap, tak berbekas. Sirna, tak bernyawa. Tetapi tidak dengan hatiku saat ini. Bunga-bunga seakan bermekaran di sana. Kupu-kupu yang indah menawan tengah berterbangan di sana. Kumbang-kumbang hinggap dari satu kuncup ke kuncup yang lain. Jantungku kembali melompat-lompat kegirangan. Adrenalin itu kembali aku rasa.
            Perputaran kincir angin, komedi putar, ombak air, kora-kora, dan beberapa permainan yang lain tak membuat kepalaku pusing ataupun nyeri. Suara bising motor yang tengah beratraksi pun tak membuatku penat. Aura dingin dari rumah hantu yang begitu mencekam tak terlalu membuat bulu kudukku berdiri tegang. Semua terasa hangat, menyenangkan, dan damai.
            Putra. Dia bernama Putra. Baru kali pertama kami bertemu. Dan kami, kami seperti dua sahabat yang sudah lama tak bersua dan malam ini di pertemukan. Akrab. Antara aku dan Putra terkesan begitu akrab. Walau rasa canggung masih kerap menghampiri, tetapi kami dapat membawa diri dengan baik.
***
            “Putra,”
            “Lia,”
            Perkenalan singkat yang membawa kesan tersendiri dalam diriku malam itu. “Kamu kenapa, Li, senyam-senyum sendiri? Seperti orang gila saja kamu!” Tanya Fero, kakakku. Aku hanya nyengir kuda dan berlalu begitu saja. Putra benar-benar telah membuatku gila. Putra telah mengalihkan duniaku.
            Kebaikannya yang begitu sangat. Perhatiannya, tutur katanya, desah suaranya, juga renyah tawanya masih terekam jelas di benakku. Walau rupa tak setampan Yusuf. Bahagia, tetap itu yang aku rasakan.
            Kini tak lagi aku menilai seorang dari rupanya saja. Rupa bukanlah segalanya, yang penting hati. Rupa dapat lapuk di makan usia. Rupa tak selamanya bercahaya. Ada kalanya ia menua dan akhirnya tua. Tetapi hati, hati memang dapat berubah juga, tetapi jika hati di jaga dengan benar, ia akan tetap terselamatkan dari hasutan setan yang terkutuk. Tuhan lebih menghargai hati ketimbang rupa.
***
            “Kamu mau pilih yang mana?” tanyanya ketika aku dan Putra berada di depan penjual pakaian. “Ah, nggak. Nggak usah,” jawabku malu-malu. “Beneran?” tanyanya meyakinkan.
            Aku mengangguk pasti walau sebenarnya ragu.
            “Pilih cepet aja kalau nggak mau baju!” pintannya. Demi menghargai kebaikan Putra, aku pun memilih-milih cepet-cepet cantik di hadapan kami. Aku memang penggemar cepet. Dan, oh… bando itu lucu sekali. Ungu, warnanya seperti warna kesukaanku. Aduh, aku begitu ingin memilikinya. Inginku dalam hati.
            “Gimana, ada yang suka?” tanyanya.
            Aku menggeleng lemas. Sebenarnya ada yang aku suka, tetapi aku malu jika harus memintanya. Putra sudah begitu banyak memberiku malam ini, padahal kami baru saja mengenal. Ingin aku bayar sendiri dengan uangku, tetapi aku tetap sungkan dengan dia.
***
            Oh, Putra… kau begitu mengalihkan duniaku. Kau buatku seakan lupa dengan cerita cintaku yang lalu, yang begitu menyakitkanku. Kau membuatku kembali ceria. Kau buatku kembali tersenyum girang.
            Oh, mungkinkah aku telah jatuh hati kepadamu? Mungkinkah dewa amor telah menancapkan busurnya di hatiku? Aku tak tahu!
o0o

Jumat, 22 Juni 2012

Puisi?


Entah mengapa,
hatiku tak lagi seperti dahulu,
hatiku beku,
hatiku membatu

Cinta yang aku rasa, biasa saja
Sakit yang aku rasa, biasa saja

Aku sedih ketika aku tahu dia mencintai orang lain
Tetapi entah mengapa,
sedikitpun hatiku tak menangis seperti dahulu,
seperti saat yang lalu

Kamis,    21 Juni 2012
Hampir Tengah Malam

***

Baru satu pria yang mampu menggetarkan hatiku begitu sangat
Baru satu pria yang mampu melukai hatiku begitu sangat
Dan, satu pria yang mampu membekukan hatiku,
membuatnya seperti batu,
tak mampuberkutik samasekali

Kamis, 21 Juni 2012
Hampir Tengah Malam

***

Oh, Jum'at
Layangkan keberuntungan kepadaku
Lengketkan kejujuran kepadaku
Letakkan keikhlasan dihatiku
Jahitkan kesabaran dihatiku
Hempaskan kegagalan dariku
Enyahkan kebohongan dariku
Musnahkan pamrih dari hati & benakku
Jagalah aku^^
Happy Friday ^_^

Jim`at, 22 Juni 2012
08. 17 AM
***

Senin, 18 Juni 2012

Jaga Stant! @Sanggih :D

Oh, aku kelimpungan dengan tempatnya.
Sanggih!
Aku nggak tau di mana tempatnya. Aku nggak pernah ke sana. sekalipun!
Aku malu. #Buata apa?

Oh, syukur Alhamdulillah, ada Nana yang ternyata juga belum ke sana. Coba kalo dia udah ke sana... O oo ooo... bagaimana kah nasibku??? *Yang pasti ngenez!

Jauuuuuuuhhhhh!
Itu hal yang aku rasain pertama waktu perjalanan.
Jueeelllleeeekkkkk, jalannya!
Itu juga yang aku rasain di perjalanan.
But,
Kueeeeeerrrrreeeee!
Itu lah yang aku dapat sesampainya di sana.

Owwwoooo!
Nggak rugi perjalanan jauh, juelek, akhirnya dapetin keindahan.

Di sana banyak teman sekolahku _walau pada gatau aku :p-

Di sana aku jaga Stant buku2 nya Pak Asti. Um... sebenernya sih kita bertiga; Aku, Nana, sama Sidik. Tapi dibagi jaga. aku dan Nana jaga Pagi ame sore, sedangkan Sidik jaga sore ampe pagi.
Hihii... tapi tadi akau sama Nana berangkat dan sampe di sana jam 12 siang. hoho... kesian si Sidik harus jaga 24 jam :o
:DDD

Yasudahlah, nasib dia :p

Wew, besok harus jaga lagi dan aku gatau musti naik apa.
huhuhuu... gimana dooonng?
Lihat aja besok. hihihii :D
:p

Sabtu, 16 Juni 2012

Aroma Wangi Tubuhnya

Aroma Wangi Tubuhnya
Oleh   :  Zafira Tari Lathifa

Aku ingin menjerit sekencang-kencangnya menghilangkan semua beban dalam dada. Menghapus semua asa, mengubur dalam segala rasa. Angin bertiup sepoi-sepoi. Dedaunan melambai-lambai. Ombak bergemuruh meminta untuk ditemani. Burung-burubng berkicau menanti.
Kuarungi samudra cinta yang tak bertepi. Menemani segala rasa dihati. Sang cinta tak disisi. Alunan merdu angin yang bertiup sepoi-sepoi dan semilirnya seakan-akan tak menyejukan hati yang tengah dilanda kepiluan.
Ketika sang kekasih telah berdua, tak lagi bersama. Kuhanya bisa berdoa, berharap ia kembali disisi bukan untuk mendua tetapi untuk memilikinya.
“Aku dijodohkan.”
Kata-kata itu menyekatkan tenggorokanku, ia tak dapat berucap. Titik-titik bening menampakan dirinya. Hanya dialah yang erucap.
“Maafin aku, Di…” lanjutnya. Aku tak tahu harus bagaimana, harus berbuat apa dan berucap apa. “Bulan depan aku tunangan,”
Deg!
Bulan depan? Secepat itukah? Apa tak dapat ditunda? Pikirku. “Sebenarnya aku dan dia sudah dijodohkan sejak kami kecil. Ayahku dan ayahnya sahabat karib. Ayahku nggak bisa nolak perjodohan ini karena…”
“Mereka bersahabat!?” potongku. “Apa nggak bisa kamu menolak perjodohan itu?” lanjutku berharap. “Maaf, Di…” ucapnya memohon. “Ah, sudahlah! Selamat atas pertunangan kalian! Aku ikut senang. Semoga kalian bahagia!” akupun meninggalkannya sendiri. Pantai ini menjadi saksinya.
***
Satu bulan telah berlalu. Sebuah undangan ada ditanganku. Aku tak akan membukanya, karena aku tahu bila nama yang ada dalam undangan itu hanya akan semakin menyakitiku. Aku belum siap menerima kenyataan ini. Aku belum siap!
Dengan langkah gontai kuarungi pasir-pasir putih disetiap mata memandang. Kulihat sebuah keramaian. Disanalah akan kelangkahkan kaki. Tunangan antara Vino dan Abdin, perempuan yang dijodohkan dengan Vino, kekasihku atau lebih tepatnya mantan kekasihku. Tanpa kusadari, butiran bening telah menetes dipipiku. Aku mengusapnya dan berusaha tersenyum tegar saat memasuki keramaian itu.
Mataku kulayangkan pada sekelompok orang yang aku yakin terdapat Vino dan Andin. Kulangkahkan kakiku ragu. Vino… Andin… aku telah melihat mereka. Mereka memang terlihat sangat serasi dan aku membayangkan bila perempuan disamping Vino adalah diriku, tetapi semua itu takkan pernah terjadi. Vino sudah ada yang memiliki. Aku tak mungkin bisa memilikinya kembali.
Kulangkahkan kaki untuk menghampiri mereka. Jantungku berdebar kencang, aku takut bila aku tak mampu menahan diri dan membuatnya malu.  Kucoba menenagkan diri. Punggung Vino sudah ada didepan mataku. Kucium aroma tubuhnya yang hingga saat ini tak pernah aku lupakan. “Permisi,” sapaku. Mereka memalingkan pandangan kepadaku. Jantungku terus saja berdetak kencang dan semakin kencang.
“Vino, selamat, ya atas pertuanganmu dengan Andin. Aku udah nepatin janjiku untuk datang kesini kan? Hm, aku turut bahagia bila kamu juga bahagia. Semoga kalian bisa secepatnya melangsungkan pernikahan dan memiliki anak yang banyak seperti mimpi-mimpi kamu, Vin…” Kuucap kalimat-kalimat itu dengan perasaan yang tak karuan. “Maksud kamu, Di?” Andin melontarkan pertanyaan kepadaku. Dia terlihat sangat bingung. Aku tak tahu mengapa. “Ya, semoga kalian bahagia,” jawabku cepat dan tetap berusaha tegar.
Andin melirik Vino yang sedari tadi ketawa-ketiwi nggak jelas. “Hahaha… tega kamu Vin!” seru Andin dengan menonjok pelan lengan Vino. Aku bingung sedangkan Vino hanya nyengir kepada Andin. Aku semakin tak mengerti. “Jadi kamu tetap nglakuin rencana itu? Wah, bener-bener keterlaluan kamu, Vin! Mana aku kamu jadiin korban lagi! Aku nggak mau ikut campur ya kalo Diana ini bakal ngamuk. Hahaha…
“Maksud kamu, An? Rencana apa?” tanyaku pada Andin penasaran. Andin memandangku penuh iba dan merangkulku. “Jadi gini, Di… Vino itu Cuma ngerjain kamu. Dia bilang mau tunangan sama aku kan? Hahahaa… siapa juga yang mau tunangan sama dia? Aku juga udah punya pacar sendiri. Apalagi kita kan baru lulus SMA masak iya udah tunangan. Nggak lah yau… hehe…”
“Jadi?” tanyaku penasaran. “Biar dijelasin Vino sendiri. Cepetan gih, Vin, jelasin!” perintah Andin, Vino nyengir. “Hehe… sebenarnya aku Cuma ngerjain kamu, Dianan sayang…” ucap Vino, kupicingkan mataku, Vino hanya menunjukan gigi ratanya.
“Kamu mau nggak, tunangan sama aku?” tanyanya yang membuatku tersentak kaget. Aku tak menyangka bila Vino menyatakan hal itu. “Aku dan Andin nggak tunangan. Aku cuma ngerjain kamu. Aku dan Andin memang dijodohkan, tapi kami punya pilihan masing-masing dan aku memilih kamu. Jdi, kamu mau nggak tunangan sama aku?” lanjutnya. Tanpa basa-basi, aku pun menganggukan kepalaku menandakan ketersediaanku. Vino memelukku dan aku bersyukur karena aku tetap dapat mencium aroma wangi dari tubuhnya.