Sabtu, 16 Juni 2012

Aroma Wangi Tubuhnya

Aroma Wangi Tubuhnya
Oleh   :  Zafira Tari Lathifa

Aku ingin menjerit sekencang-kencangnya menghilangkan semua beban dalam dada. Menghapus semua asa, mengubur dalam segala rasa. Angin bertiup sepoi-sepoi. Dedaunan melambai-lambai. Ombak bergemuruh meminta untuk ditemani. Burung-burubng berkicau menanti.
Kuarungi samudra cinta yang tak bertepi. Menemani segala rasa dihati. Sang cinta tak disisi. Alunan merdu angin yang bertiup sepoi-sepoi dan semilirnya seakan-akan tak menyejukan hati yang tengah dilanda kepiluan.
Ketika sang kekasih telah berdua, tak lagi bersama. Kuhanya bisa berdoa, berharap ia kembali disisi bukan untuk mendua tetapi untuk memilikinya.
“Aku dijodohkan.”
Kata-kata itu menyekatkan tenggorokanku, ia tak dapat berucap. Titik-titik bening menampakan dirinya. Hanya dialah yang erucap.
“Maafin aku, Di…” lanjutnya. Aku tak tahu harus bagaimana, harus berbuat apa dan berucap apa. “Bulan depan aku tunangan,”
Deg!
Bulan depan? Secepat itukah? Apa tak dapat ditunda? Pikirku. “Sebenarnya aku dan dia sudah dijodohkan sejak kami kecil. Ayahku dan ayahnya sahabat karib. Ayahku nggak bisa nolak perjodohan ini karena…”
“Mereka bersahabat!?” potongku. “Apa nggak bisa kamu menolak perjodohan itu?” lanjutku berharap. “Maaf, Di…” ucapnya memohon. “Ah, sudahlah! Selamat atas pertunangan kalian! Aku ikut senang. Semoga kalian bahagia!” akupun meninggalkannya sendiri. Pantai ini menjadi saksinya.
***
Satu bulan telah berlalu. Sebuah undangan ada ditanganku. Aku tak akan membukanya, karena aku tahu bila nama yang ada dalam undangan itu hanya akan semakin menyakitiku. Aku belum siap menerima kenyataan ini. Aku belum siap!
Dengan langkah gontai kuarungi pasir-pasir putih disetiap mata memandang. Kulihat sebuah keramaian. Disanalah akan kelangkahkan kaki. Tunangan antara Vino dan Abdin, perempuan yang dijodohkan dengan Vino, kekasihku atau lebih tepatnya mantan kekasihku. Tanpa kusadari, butiran bening telah menetes dipipiku. Aku mengusapnya dan berusaha tersenyum tegar saat memasuki keramaian itu.
Mataku kulayangkan pada sekelompok orang yang aku yakin terdapat Vino dan Andin. Kulangkahkan kakiku ragu. Vino… Andin… aku telah melihat mereka. Mereka memang terlihat sangat serasi dan aku membayangkan bila perempuan disamping Vino adalah diriku, tetapi semua itu takkan pernah terjadi. Vino sudah ada yang memiliki. Aku tak mungkin bisa memilikinya kembali.
Kulangkahkan kaki untuk menghampiri mereka. Jantungku berdebar kencang, aku takut bila aku tak mampu menahan diri dan membuatnya malu.  Kucoba menenagkan diri. Punggung Vino sudah ada didepan mataku. Kucium aroma tubuhnya yang hingga saat ini tak pernah aku lupakan. “Permisi,” sapaku. Mereka memalingkan pandangan kepadaku. Jantungku terus saja berdetak kencang dan semakin kencang.
“Vino, selamat, ya atas pertuanganmu dengan Andin. Aku udah nepatin janjiku untuk datang kesini kan? Hm, aku turut bahagia bila kamu juga bahagia. Semoga kalian bisa secepatnya melangsungkan pernikahan dan memiliki anak yang banyak seperti mimpi-mimpi kamu, Vin…” Kuucap kalimat-kalimat itu dengan perasaan yang tak karuan. “Maksud kamu, Di?” Andin melontarkan pertanyaan kepadaku. Dia terlihat sangat bingung. Aku tak tahu mengapa. “Ya, semoga kalian bahagia,” jawabku cepat dan tetap berusaha tegar.
Andin melirik Vino yang sedari tadi ketawa-ketiwi nggak jelas. “Hahaha… tega kamu Vin!” seru Andin dengan menonjok pelan lengan Vino. Aku bingung sedangkan Vino hanya nyengir kepada Andin. Aku semakin tak mengerti. “Jadi kamu tetap nglakuin rencana itu? Wah, bener-bener keterlaluan kamu, Vin! Mana aku kamu jadiin korban lagi! Aku nggak mau ikut campur ya kalo Diana ini bakal ngamuk. Hahaha…
“Maksud kamu, An? Rencana apa?” tanyaku pada Andin penasaran. Andin memandangku penuh iba dan merangkulku. “Jadi gini, Di… Vino itu Cuma ngerjain kamu. Dia bilang mau tunangan sama aku kan? Hahahaa… siapa juga yang mau tunangan sama dia? Aku juga udah punya pacar sendiri. Apalagi kita kan baru lulus SMA masak iya udah tunangan. Nggak lah yau… hehe…”
“Jadi?” tanyaku penasaran. “Biar dijelasin Vino sendiri. Cepetan gih, Vin, jelasin!” perintah Andin, Vino nyengir. “Hehe… sebenarnya aku Cuma ngerjain kamu, Dianan sayang…” ucap Vino, kupicingkan mataku, Vino hanya menunjukan gigi ratanya.
“Kamu mau nggak, tunangan sama aku?” tanyanya yang membuatku tersentak kaget. Aku tak menyangka bila Vino menyatakan hal itu. “Aku dan Andin nggak tunangan. Aku cuma ngerjain kamu. Aku dan Andin memang dijodohkan, tapi kami punya pilihan masing-masing dan aku memilih kamu. Jdi, kamu mau nggak tunangan sama aku?” lanjutnya. Tanpa basa-basi, aku pun menganggukan kepalaku menandakan ketersediaanku. Vino memelukku dan aku bersyukur karena aku tetap dapat mencium aroma wangi dari tubuhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar