Xīnyuàn
Oleh : Zafira Tari Lathifa
“Peringkat pertama dengan total nilai 39,6 diperoleh oleh…” Jantungku berdebar dengan kencangnya. Semakin detik kecepatannya semakin kencang. Menunggu pengumuman hasil nilai kelulusan begitu mendebarkan setelah pengumuman kelulusan itu sendiri. “Maharani Kumalasari dari kelas dua belas pemasaran dua. Beri tepuk tangan!” Aku tak percaya dengan apa yang Pak Ridwan, kepala sekolahku, serukan. Beliau menyerukan namaku. Yah, Maharani Kumalasari adalah namaku. Tak ada seorang pun di sekolah ini yang bernama demikian selain aku. “Silakan Maharani Kumalasari untuk maju kedepan,” lanjut beliau. Aku masih saja terdiam ditempat dudukku sekarang. Aku benar-benar masik shock dengan apa yang aku dengar barusan. Aku tak percaya bila namakulah yang Pak Ridwan serukan. Aku hanya seorang siswi jurusan pemasaran yang sering diremehkan oleh anak-anak jurusan lain. Bahkan, banyak juga guru-guru yang meremehkan jurusan pemasaran tempatku berada. Dan akhirnya aku berhasil menduduki peringkat pertama pada kelulusan tahun ini. Dan yang lebih mengejutkan lagi, total nilaiku hampir mendekati sempurna. Aku benar-benar tak percaya. “Hai Mal, congratulation ya, aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu yang menduduki peringkat pertama pada kelulusan tahun ini. Kamu benar-benar hebat,Mal!” “Wah, Mal, hebat kamu!” “Cepetan maju, Mal!” Berbagai tanggapan positiv dari teman-temanku semakin membuatku tak percaya dengan apa yang aku dapatkan saat ini. Semua ini seakan mimpi. Au! Ternyata aku tidak sedang bermimpi saat iseng aku cubit lenganku. Dengan perasaa tak karuan, kulangkahkan kaki menuju panggung seperti yang Pak Ridwan pinta. “Hah, dia yang peringkat pertama? TIDAK MUNGKIN!” “Seorang pemasaran bisa kalahin kita-kita anak akuntansi? Pasti dia CURANG!” “Iya, pasti dia CURANG!” Berbagai tanggapan negativ yang di lontarkan anak-anak jurusan lain berhasil menciutkan nyaliku untuk terus melangkahkan kaki. “Ayo Mal, cepat naik!” seru Lika teman sekelasku dari tempatnya ia duduk, di bangku paling belakang. Aku pun kembali melangkahkan kakiku dengan yakin. “Selamat, Mala kamu berhasil,” ucap Pak Ridwan padaku dengan menyodorkan sebuah piala kepadaku. “Terima kasih Pak,” jawabku dengan menyunggingkan senyum antara bahagia dan tidak percaya. Sebuah piala ada di tanganku. “Benar kan apa kata bapak? Kamu BISA!” seru Pak Tri guru produktifku yang tempo lalu pernah menyemangatiku bila aku pasti BISA. “Piala ini aku persembahkan untuk kalian teman-teman!” seruku di atas panggung pada teman-temanku yang berada di bagian paling akhir. Pemasaran di tempatkan di bagian belakang. “PEMASARAAAANNN…” lanjutku dengan sedikit meninggikan piala di tanganku, “BISA!” seru teman-temanku serempak yang tanpa kusadari butiran bening menetes di pipiku. Tetapi tetap, senyum bahagia tetap ada di tempatnya.*** Sang rembulan telah menampakan dirinya. Sang bintang pun tak mau kalah. Kegelapan malam semakin membuat mereka bercahaya terang. Hawa dingin yang di timbulkan dari tarian dedauan akibat angin yang bertiup semakin memberikan suasan tersendiri. Cuaca memang cerah, tetapi hawa dingin pun tak mau kalah. Kudekatkan dada dengan kedua kakiku yang aku lipat. Kedua tanganku mendekapnya. Aku teringat saat yang lalu, saat di mana aku harus berjuang demi membahagikan kedua orang tuaku untuk diterima di SMK Negeri 1 Purwodadi yang merupakan SMK terbaik di daerah ini. Setelah di terima pun aku harus tetap bergulat dengan mental yang seakan-akan ingin lenyap dari tempat tinggal yang semestinya. “Mala, kamu nggak usah sekolah di sana! MAHAL!” ‘Tapi, bu, Mala ingin sekolah di sana,” “Jangan membantah, Mala!” “Tapi, bu…” “Ah, sudah! Tidak ada tapi-tapian lagi!” “Bu…” “SUDAH!” “Mala janji, bu, Mala akan rajin belajar. Mala akan banggain ibu dengan prestasi. Mala janji, bu, Mala akan giat belajar supaya Mala bisa dapat beasiswa,” aku terus saja merajuk agar ibuku mau me-ridhoi keinginanku. “Oh, Mala juga akan cari pekerjaan bu buat tutupin kekurangan biaya sekolah Mala nantinya. Mala janji, bu…” lanjutku. “Tapi tolong, ibu ridhoi keinginan Mala ya untuk sekolah di SMK 1?” Tanpa kusadari, butiran bening membasahi pipiku. Terbentuklah anak sunga di sana. Dekapan hangat yang tiba-tiba aku dapatkan semakin membuatku terisak. Ibu mendekapku. “Mala mohon, bu, Mala…” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, ibuku sudah memotongnya. Aku semakin terisak ketika mendengar tuturan beliau. “Sudah Mala, sudah! Ibu me-ridhoi kamu bersekolah di sana. Kamu nggak usah repot-repot cari kerja, biar ibu saja yang bekerja. Kamu belajar saja yang rajin biar nanti jadi orang.” Kuciumi tangan beliau. Pipi beliau. Sebagai tanda terima kasih. Aku kembali mendekapnya. Tangisku kembali semakin menjadi. Di belainya rambutku dengan penuh kasih sayang. Kupererat dekapanku. Kurasakan kehangatan luar biasa di sana. Dengan niat sekaligus kenekatan aku pun mendaftarkan diri di sana, di SMK Negeri 1 Purwodadi pada gelombang pertama yang membuka peluang untuk mendapatkan beasiswa atau paling tidak keringanan biaya. Dari lebih dari dua ratus peserta yang mendaftar dan mengikuti setiap tes yang berikan pihak sekolah, aku berhasil menduduki peringkat ketiga dari dua belas peserta yang diterima. Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang aku peroleh. Pemasaran jurusan yang aku ambil dari enam jurusan yang tersedia. Pemasaran, Akuntansi, Administrasi Perkantoran, Busana Butik, Tehnik Komunikasi dan Jaringan, juga Multimedia. Mengapa aku ambil jurusan pemasaran dan bukan jurusan yang –kata orang- lebih baik? Jawabannya, karena aku memang menggemari dunia bisnis yang khususnya di bidang Marketing. Hari-hariku di sekolah kujalani dengan gembira walau terkadang terdapat luka. Aku memiliki banyak teman yang mau menerimaku apa adanya, BUKAN ada apanya. Mereka merasakan hal yang sama seperti apa yang aku rasakan. Tak ada diskriminasi kelompok di sana. Kami merasa senasib-sepenanggungan. Ketika banyak mulut-mulut yang menghina jurusan kami, kami bertekat untuk menjadi seorang yang lebih baik lagi dari yang sebelumnya. Memang, hinaan mereka membuat nyali kami ciut, tetapi di balik itu, semangat kami kian berkobar. Kami yakin bahwa suatu saat nanti kami mampu menunjukkan gaung kami sebagai siswi lulusan pemasaran yang berprestasi. Kami yakin, barang satu dari kami akan mampu bergaung. Memang, sebagian besar dari kami merupakan siswi-siswi tolakan dari jurusan awal yang kami ambil seperti akuntansi, administrasi perkantoran atau jurusan yang lain. Tetapi dengan begitu kami sadar, kesuksesan kami tidak di semua jurusan itu, melainkan di sini, di pemasaran. Ketika banyak yang mengatakan bila jurusan pemasaran tidak akan pernah berhasil. Ketika banyak yang mengatakan bila jurusan pemasaran hanyalah jurusan sampah yang seharusnya di musnahkan. Ketika banyak yang mengatakan bila jurusan pemasaran akan banyak yang tidak lulus. Dan ketika banyak yang mengatakan bila jurusan pemasaran tidak akan ada yang mampu bekerja di ruangan ber-AC dan mengahadapi komputer setiap harinya ... ketika itu pula mereka terbelalak, tercengang tak percaya bila ada seorang anak pemasaran yang berhasil menduduki singgasana tertinggi ketika kelulusan dengan nilai yang hampir sempurna. Dan yang paling membuat mereka tercengang tak percaya, tawaran pekerjaan dari perusahaan seorang China berhasil digenggamnya. Sebagai seorang marketing. “Mala, cepat masuk! Sudah larut,” suara ibuku dari dalam rumah membuatku kembali ke duania nyataku. Lamunanku terhenti. Aku pun menuruti permintaan beliau untuk segera masuk ke dalam rumah yang ketika aku melihat jam sudah menunjukkan jam Sembilan malam.*** “Gèng hǎo, wǒmen cái gānggāng kāishǐ, jīntiān shàngwǔ de huìyì...( Lebih baik langsung saja kita mulai rapat pada pagi ini...)” ucapku membuka rapat pada pagi yang dingin ini di salah satu perusahaan terkemuka di Beijing, China. Sebagai seorang marketing, aku harus mampu berbahasa asing. Terutama bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin karena banyak rekan bisnisku yang dari China. Bukan hanya itu, aku juga bekerja di bawah naungan orang China yang mau tak mau aku harus mampu berbahasa Mandarin. Untunglah, sewaktu sekolah di SMK dulu ada pelajaran Bahasa Mandarin. Jadi, barang sedikit aku mengerti Bahasa Mandarin. Yah, tentu saja aku masih terus belajar guna mendukung pekerjaanku saat ini. “Xièxiè, (Terima kasih)” akhirnya rapat yang berlangsung kurang lebih selama dua jam ini akhirnya selesai juga. “Bu Maharani Kumalasari, bagaimana rapatnya hari ini? Diànliú? (Lancar?)” seorang pria yang sebelumnya duduk di ruang tunggu menghampiriku. “Oh, Pak Ivan Mahardika. Alhamdulillah, Pínghuá. (Lancar)” jawabku dengan menyunggingkan sebuah senyuman. “Zuìhòu yěxīn yào zuò dào zhè yīdiǎn, (Akhirnya cita-citamu selama ini terwujud), aku turut berbahagia atas keberhasilanmu. Ibu kamu di tanah air pasti bahagia melihat anaknya sukses di negeri orang,” Aku hanya tersenyum senang mendengar pujiannya. “Wǒ ài nǐ (Aku cinta kamu)” ucapnya lembut yang membuatku terkejut mendengarnya. “Wǒ ài nǐ, too…” balasku dengan senyum geli. Kulihat perubahan rona mukanya yang terlihat sangat lucu. Dikerutkannya dahinya. Aku cekikikan geli melihatnya. “Wǒ yě ài nǐ (Aku juga mencintaimu),” ucapku lembut saat melangkah melewatinya. Tepat di telinganya aku berucap. Ah, sayang, aku tak tahu bagaimana ekspresinya. Pasti sangat lucu. Ivan tiba-tiba sudah ada di sampingku. Berjalan mengiringiku. Dengan langkah tegap menunjukan kewibawaannya. Dia melirikku dengan senyum tipis di bibirnya yang seakan-akan ingin tertawa tetapi di tahannya. Ivan adalah seorang Indonesia yang juga bekerja di perusahaan yang sama denganku di Beijing, China ini.o0o