Aroma Wangi Tubuhnya
Oleh : Zafira Tari Lathifa
Aku
ingin menjerit sekencang-kencangnya menghilangkan semua beban dalam dada.
Menghapus semua asa, mengubur dalam segala rasa. Angin bertiup sepoi-sepoi.
Dedaunan melambai-lambai. Ombak bergemuruh meminta untuk ditemani. Burung-burubng
berkicau menanti.
Kuarungi
samudra cinta yang tak bertepi. Menemani segala rasa dihati. Sang cinta tak
disisi. Alunan merdu angin yang bertiup sepoi-sepoi dan semilirnya seakan-akan
tak menyejukan hati yang tengah dilanda kepiluan.
Ketika
sang kekasih telah berdua, tak lagi bersama. Kuhanya bisa berdoa, berharap ia
kembali disisi bukan untuk mendua tetapi untuk memilikinya.
“Aku
dijodohkan.”
Kata-kata
itu menyekatkan tenggorokanku, ia tak dapat berucap. Titik-titik bening
menampakan dirinya. Hanya dialah yang erucap.
“Maafin
aku, Di…” lanjutnya. Aku tak tahu harus bagaimana, harus berbuat apa dan
berucap apa. “Bulan depan aku tunangan,”
Deg!
Bulan depan? Secepat itukah? Apa
tak dapat ditunda? Pikirku. “Sebenarnya aku dan dia sudah
dijodohkan sejak kami kecil. Ayahku dan ayahnya sahabat karib. Ayahku nggak
bisa nolak perjodohan ini karena…”
“Mereka
bersahabat!?” potongku. “Apa nggak bisa kamu menolak perjodohan itu?” lanjutku
berharap. “Maaf, Di…” ucapnya memohon. “Ah, sudahlah! Selamat atas pertunangan
kalian! Aku ikut senang. Semoga kalian bahagia!” akupun meninggalkannya
sendiri. Pantai ini menjadi saksinya.
***
Satu
bulan telah berlalu. Sebuah undangan ada ditanganku. Aku tak akan membukanya,
karena aku tahu bila nama yang ada dalam undangan itu hanya akan semakin
menyakitiku. Aku belum siap menerima kenyataan ini. Aku belum siap!
Dengan
langkah gontai kuarungi pasir-pasir putih disetiap mata memandang. Kulihat
sebuah keramaian. Disanalah akan kelangkahkan kaki. Tunangan antara Vino dan
Abdin, perempuan yang dijodohkan dengan Vino, kekasihku atau lebih tepatnya
mantan kekasihku. Tanpa kusadari, butiran bening telah menetes dipipiku. Aku
mengusapnya dan berusaha tersenyum tegar saat memasuki keramaian itu.
Mataku
kulayangkan pada sekelompok orang yang aku yakin terdapat Vino dan Andin.
Kulangkahkan kakiku ragu. Vino… Andin… aku telah melihat mereka. Mereka memang
terlihat sangat serasi dan aku membayangkan bila perempuan disamping Vino
adalah diriku, tetapi semua itu takkan pernah terjadi. Vino sudah ada yang
memiliki. Aku tak mungkin bisa memilikinya kembali.
Kulangkahkan
kaki untuk menghampiri mereka. Jantungku berdebar kencang, aku takut bila aku
tak mampu menahan diri dan membuatnya malu.
Kucoba menenagkan diri. Punggung Vino sudah ada didepan mataku. Kucium
aroma tubuhnya yang hingga saat ini tak pernah aku lupakan. “Permisi,” sapaku.
Mereka memalingkan pandangan kepadaku. Jantungku terus saja berdetak kencang
dan semakin kencang.
“Vino,
selamat, ya atas pertuanganmu dengan Andin. Aku udah nepatin janjiku untuk
datang kesini kan? Hm, aku turut bahagia bila kamu juga bahagia. Semoga kalian
bisa secepatnya melangsungkan pernikahan dan memiliki anak yang banyak seperti
mimpi-mimpi kamu, Vin…” Kuucap kalimat-kalimat itu dengan perasaan yang tak karuan.
“Maksud kamu, Di?” Andin melontarkan pertanyaan kepadaku. Dia terlihat sangat
bingung. Aku tak tahu mengapa. “Ya, semoga kalian bahagia,” jawabku cepat dan
tetap berusaha tegar.
Andin
melirik Vino yang sedari tadi ketawa-ketiwi
nggak jelas. “Hahaha… tega kamu Vin!” seru Andin dengan menonjok pelan lengan
Vino. Aku bingung sedangkan Vino hanya nyengir
kepada Andin. Aku semakin tak mengerti. “Jadi kamu tetap nglakuin rencana itu?
Wah, bener-bener keterlaluan kamu, Vin! Mana aku kamu jadiin korban lagi! Aku
nggak mau ikut campur ya kalo Diana ini bakal ngamuk. Hahaha…
“Maksud
kamu, An? Rencana apa?” tanyaku pada Andin penasaran. Andin memandangku penuh
iba dan merangkulku. “Jadi gini, Di… Vino itu Cuma ngerjain kamu. Dia bilang
mau tunangan sama aku kan? Hahahaa… siapa juga yang mau tunangan sama dia? Aku
juga udah punya pacar sendiri. Apalagi kita kan baru lulus SMA masak iya udah
tunangan. Nggak lah yau… hehe…”
“Jadi?”
tanyaku penasaran. “Biar dijelasin Vino sendiri. Cepetan gih, Vin, jelasin!”
perintah Andin, Vino nyengir. “Hehe…
sebenarnya aku Cuma ngerjain kamu, Dianan sayang…” ucap Vino, kupicingkan
mataku, Vino hanya menunjukan gigi ratanya.
“Kamu
mau nggak, tunangan sama aku?” tanyanya yang membuatku tersentak kaget. Aku tak
menyangka bila Vino menyatakan hal itu. “Aku dan Andin nggak tunangan. Aku cuma
ngerjain kamu. Aku dan Andin memang dijodohkan, tapi kami punya pilihan
masing-masing dan aku memilih kamu. Jdi, kamu mau nggak tunangan sama aku?”
lanjutnya. Tanpa basa-basi, aku pun menganggukan kepalaku menandakan
ketersediaanku. Vino memelukku dan aku bersyukur karena aku tetap dapat mencium
aroma wangi dari tubuhnya.